Kita Adalah Remaja yang Akan Damai Saat Taat

0

 

Kita Adalah Remaja yang Akan Damai Saat Taat

Menjadi remaja adalah masa ketika kita mulai banyak mengenal dunia. Kita punya banyak keinginan, cita-cita, pertemanan, dan impian. Pada saat yang sama, kita juga sering berhadapan dengan kegelisahan: takut gagal, takut tertinggal, kecewa dengan keadaan, bingung menentukan masa depan, bahkan merasa kosong meskipun dari luar terlihat baik-baik saja.

Kita sering mencari ketenangan dari berbagai hal. Ada yang mencarinya melalui pertemanan, hiburan, media sosial, pencapaian, uang, bahkan perhatian dari orang lain. Namun, setelah semua itu didapat, hati belum tentu benar-benar tenang.

Islam mengajarkan bahwa ketenangan hati memiliki tempat kembali yang lebih dalam: Allah.

Allah berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. ar-Ra‘d [13]: 28)

Ayat ini tidak mengatakan bahwa orang yang taat akan terbebas dari masalah. Orang yang taat tetap bisa menangis, kecewa, kehilangan, dan menghadapi ujian. Tetapi ketaatan membuat hati mempunyai tempat untuk bersandar ketika semua yang ada di dunia terasa tidak cukup.

Kisah Para Pemuda Ashabul Kahfi

Al-Qur'an memberikan kepada kita sebuah kisah tentang pemuda-pemuda yang memilih mempertahankan iman mereka.

Allah berfirman:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.”
(QS. al-Kahf [18]: 13)

Perhatikan satu hal penting: Allah menyebut mereka sebagai فِتْيَةٌ (fityah), yaitu para pemuda.

Mereka bukan orang tua yang baru menemukan ketaatan setelah melewati seluruh kehidupan. Mereka adalah pemuda yang memilih beriman ketika lingkungan mereka tidak mendukung keimanan.

Mereka kemudian menghadapi tekanan dan memilih meninggalkan lingkungan yang mengancam iman mereka. Allah pun menguatkan hati mereka:

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَن نَّدْعُوَ مِن دُونِهِ إِلَٰهًا

“Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu berkata, ‘Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi. Kami tidak akan menyeru tuhan selain Dia.’”
(QS. al-Kahf [18]: 14)

Mereka mungkin kehilangan kenyamanan dunia. Mereka meninggalkan lingkungan dan tempat yang mereka kenal. Tetapi mereka mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: keteguhan hati dan pertolongan Allah.

Inilah pelajaran besar bagi kita sebagai remaja.

Taat kepada Allah bukan berarti hidup kita selalu mudah. Taat berarti kita mempunyai arah ketika hidup terasa sulit.

Remaja yang Taat Bukan Berarti Remaja yang Tidak Pernah Salah

Kita sering merasa bahwa untuk menjadi baik, kita harus menjadi sempurna terlebih dahulu.

Padahal tidak demikian.

Remaja yang taat bukanlah remaja yang tidak pernah melakukan kesalahan. Ia adalah remaja yang ketika melakukan kesalahan, mau kembali kepada Allah.

Ia mungkin pernah lalai dari salat, tetapi kemudian memperbaikinya.

Ia mungkin pernah terjerumus dalam dosa, tetapi kemudian bertaubat.

Ia mungkin pernah mengikuti teman dalam sesuatu yang tidak baik, tetapi kemudian berani meninggalkannya.

Ia mungkin pernah merasa jauh dari Allah, tetapi tetap berusaha kembali.

Jangan menunggu menjadi sempurna untuk mulai taat.

Justru ketaatanlah yang perlahan-lahan membentuk kita menjadi lebih baik.

Nabi ﷺ Mengajarkan Cara Menghadapi Kehidupan

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan baginya. Hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya.”
(HR. Muslim no. 2999)

Perhatikan: Nabi ﷺ tidak mengatakan bahwa seorang mukmin tidak akan mengalami kesusahan.

Justru beliau menyebut kesusahan.

Artinya, menjadi taat bukan berarti hidup tanpa masalah. Tetapi seorang yang taat memiliki cara berbeda dalam menghadapi masalah.

Ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, ia bersyukur.

Ketika kehilangan sesuatu, ia bersabar.

Ketika gagal, ia tidak berhenti berharap.

Ketika jatuh, ia kembali berdiri.

Dan ketika dunia mengecewakannya, ia tahu bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya.

Masa Muda Adalah Kesempatan yang Sangat Berharga

Rasulullah ﷺ juga menyebut salah satu golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat:

وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ

“Seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah.”
(HR. al-Bukhari no. 6806)

Menjadi pemuda yang taat adalah sesuatu yang istimewa.

Sebab masa muda memiliki begitu banyak godaan. Ada keinginan untuk mencoba banyak hal, mengejar kesenangan, mencari pengakuan, dan mengikuti apa yang sedang populer.

Namun, di tengah semua itu, ada seorang pemuda yang berkata:

“Aku ingin tetap menjadi hamba Allah.”

Ia tetap menjaga salat ketika teman-temannya lalai.

Ia menjaga pandangan ketika banyak hal mengajaknya melihat yang haram.

Ia menjaga pergaulan ketika lingkungan mengajaknya berlebihan.

Ia memilih rezeki yang halal ketika jalan yang haram terlihat lebih mudah.

Ia memilih kejujuran ketika kebohongan bisa membuatnya mendapatkan keuntungan.

Itulah perjuangan seorang remaja yang ingin dekat dengan Allah.

Damai Bukan Berarti Tidak Pernah Menangis

Ada kesalahpahaman bahwa orang yang dekat dengan Allah seharusnya selalu bahagia.

Padahal para nabi dan orang-orang saleh juga pernah menangis.

Mereka pernah mengalami kesedihan.

Mereka pernah kehilangan.

Mereka pernah menghadapi tekanan.

Namun ada perbedaan besar: kesedihan tidak membuat mereka kehilangan Allah.

Maka, jika hari ini kita sedang sedih, jangan merasa bahwa Allah jauh.

Jika kita sedang kecewa, jangan berhenti berdoa.

Jika kita sedang gagal, jangan meninggalkan salat.

Jika kita sedang banyak dosa, jangan malu untuk kembali.

Bisa jadi justru saat hati kita sedang hancur, itulah saat yang paling tepat untuk benar-benar mengenal kepada siapa kita harus bersandar.

Jadi, Apa yang Harus Kita Mulai?

Tidak perlu menunggu menjadi orang besar.

Mulailah dari hal-hal sederhana.

Jaga salat lima waktu.

Luangkan waktu untuk membaca Al-Qur'an.

Perbanyak zikir dan doa.

Hormati orang tua.

Pilih teman yang membawa kita semakin dekat kepada Allah.

Jauhi dosa yang kita tahu merusak hati.

Dan ketika jatuh dalam kesalahan, segera bertaubat.

Karena perjalanan menuju Allah bukan tentang tidak pernah jatuh.

Perjalanan itu tentang selalu mau kembali.

Kita Adalah Remaja yang Akan Damai Saat Taat

Kita mungkin belum tahu bagaimana masa depan kita.

Kita belum tahu akan menjadi apa.

Kita belum tahu siapa yang akan menemani perjalanan kita.

Kita juga belum tahu berapa banyak ujian yang akan kita hadapi.

Tetapi ada satu hal yang bisa kita pilih sejak sekarang: kepada siapa kita menyerahkan hidup kita.

Jika kita memilih Allah, maka kita tidak sedang memilih kehidupan tanpa masalah.

Kita sedang memilih kehidupan yang memiliki arah.

Ketika senang, kita tahu kepada siapa harus bersyukur.

Ketika sedih, kita tahu kepada siapa harus mengadu.

Ketika takut, kita tahu kepada siapa harus berlindung.

Ketika berdosa, kita tahu kepada siapa harus kembali.

Dan ketika dunia tidak lagi memberikan ketenangan, kita tahu bahwa ketenangan hati bukan sesuatu yang harus kita cari jauh-jauh.

Allah telah mengingatkan:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. ar-Ra‘d [13]: 28)

Maka, mari menjadi generasi muda yang tidak hanya mengejar kesenangan, tetapi mengejar ketenangan.

Bukan sekadar ingin terlihat baik di hadapan manusia, tetapi benar-benar ingin baik di hadapan Allah.

Karena pada akhirnya, kita adalah remaja yang akan menemukan kedamaian ketika belajar untuk taat kepada-Nya.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَنَا، وَاهْدِ قُلُوبَنَا، وَثَبِّتْنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.

Ya Allah, perbaikilah generasi muda kami, berilah petunjuk kepada hati kami, teguhkan kami dalam ketaatan kepada-Mu, dan jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)
To Top